Bobo : Tarian Pohon Mengkudu

Foto Tarian Pohon Mengkudu

Ini dongengku yang ketiga di BOBO. Gambarnya rame, seneng lihatnya. Cerita ini terinspirasi dari pohon mengkudu tetangga. Selamat membaca. ^^

Namanya Pohon Mengkudu. Pohon yang dikenal dengan buah buruk rupa ini, suka menari jika ada angin yang menerpanya.

“Hmmm… haruuum…,” ucap Pohon Mengkudu meliuk-liuk mengikuti gerakan angin. Ia terus menerus mengendus aroma bunga mangga yang ada disekitarnya. Pohon Mengkudu memang suka aroma wangi bunga mangga. Pohon-pohon mangga jadi tersenyum geli melihatnya.

“Wah… lihat! Pohon Mengkudu sedang menari,” kata Pohon Mangga Gadung.

“Kamu benar-benar lucu, Pohon Mengkudu,” seru Pohon Mangga Manalagi.

“Iya… ya. Dia selalu membuat kita tertawa,” sahut Pohon Mangga Madu.

Mendengar itu, Pohon Mengkudu terus menggoyang-goyangkan badannya. Ia senang dengan ucapan teman-temannya. Namun tiba-tiba angin besar berhembus dan merontokkan buah-buah Pohon Mengkudu.

Anak-anak kecil yang kebetulan lewat, mengambil buah-buah itu. Lalu mereka saling melempar dan membuangnya. Bahkan ada pula yang menginjak-injak atau membanting buah kuning kehijauan itu. Pohon Mengkudu jadi sedih sekali.

**

“Wah… asyiiik…, sebentar lagi buah-buahku akan di panen,” kata Pohon Mangga Gadung.

“Iya. Bahkan buahku yang masih muda pun juga dipanen, karena sudah manis,” seru Pohon Mangga Manalagi.

“Buahku juga manis, lho,” sahut Pohon Mangga Madu tak mau kalah.

Pohon-pohon mangga itu sedang bergembira. Bunga-bunga mereka sudah berganti menjadi buah yang siap panen.

“Buahku juga siap dipanen, lho,” teriak Pohon Mengkudu memberitahu. Ia tersenyum sambil terus menari-nari karena hembusan angin.

Pohon-pohon mangga tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sebagian ada yang sampai terbatuk-batuk. Pohon Mengkudu masih tersenyum. Dikiranya, pohon mangga-mangga itu sedang tertawa melihat tariannya.

“Tapi, yang suka buah kamu itu cuma Kakek Suto,” kata Pohon Mangga Gadung tertawa.

“Anak-anak kecil di sini tidak suka buah mengkudu. Hihihi…,” Pohon Mangga Manalagi terkekeh. Pohon Mengkudu berhenti menari. Mukanya cemberut.

“Teman-teman… hentikan gurauan kalian. Lihat, Pohon Mengkudu jadi bersedih!” ucap Pohon Mangga Madu.

Pohon Mangga Gadung dan Manalagi langsung menghentikan tawa mereka. Sejak saat itu Pohon Mengkudu selalu bersedih, ia tak mau tersenyum walaupun sedang menari bersama angin. Ia baru tersenyum jika Kakek Suto mengambil buah-buahnya.

**

“Kemana ya, Kakek Suto? Harusnya ia sudah mengambil buah-buahku lagi,” gumam Pohon Mengkudu.

“Hei… Kakek Suto datang. Pasti ia akan mengambil buah-buahmu,” seru Pohon Mangga Madu.

Kakek Suto datang bersama cucu-cucunya. Ia membawa galah dan keranjang kecil. Pohon Mengkudu bergembira. Tapi, Kakek Suto berhenti di bawah pohon mangga madu. Dengan galah tersebut, Kakek Suto mengambil buah-buah mangga yang siap dipetik. Kedua cucu Kakek Suto senang sekali. Mereka akan membuat jus mangga, katanya.

Pohon Mengkudu memperhatikan cucu Kakek Suto. Sari dan Doni namanya, begitu Kakek Suto tadi memanggil mereka.

“Alangkah bahagianya aku jika anak-anak itu juga menyukai buahku,” kata Pohon Mengkudu menunduk sedih.

Pohon Mangga Madu melirik Pohon Mengkudu. Tadinya ia bergembira karena sedang dipanen Kakek Suto, tapi kini tak berani menampakkan rasa bahagianya lagi.

“Pohon Mengkudu… , jangan bersedih dong. Percayalah… pasti suatu hari nanti anak-anak juga akan suka padamu,” hibur Pohon Mangga Madu.

Pohon Mengkudu diam. Ia tahu Pohon Mangga Madu hanya menghiburnya saja. Tapi, Pohon Mengkudu jadi deg-degan setelah Kakek Suto dan kedua cucunya menghampiri dirinya. Mau apa ya? Pikir Pohon Mengkudu.

“Ini pohon kesayangan Kakek. Buah-buahnya selalu membuat Kakek sehat, tidak terkena tekanan darah tinggi. Buah-buah ini juga bisa mengobati sakit demam, batuk dan sakit perut, lho,” ucap Kakek Suto pada Sari dan Doni. Kedua cucu Kakek Suto manggut-manggut.

“Pohon ini juga bisa menghilangkan sisik kaki kalian. Ayo, Kakek tunjukkan caranya,” ucap Kakek.

Lalu Kakek Suto mengambil buah mengkudu yang masak. Kemudian menggosok-gosokkan buah itu ke kaki. Sari dan Doni pun mengikuti apa yang dilakukan Kakek Suto.

“Sedang apa, Kek?” tanya anak-anak yang suka main lempar-lemparan buah mengkudu.

“Membersihkan kaki yang bersisik. Setelah digosokkan, biarkan 5-10 menit. Setelah itu bersihkan dengan kain bersih yang dibasahi air hangat. Ayo, kalian boleh mencobanya,” ucap Kakek Suto.

Seketika anak-anak itu menirukan apa yang dilakukan Kakek Suto, Sari dan Doni. Mereka melakukan dengan tertawa riang. Mereka tak menyangka, buah yang biasanya mereka buang dan injak-injak, ternyata ada manfaatnya. Pohon Mengkudu terharu. Ia pun mulai menari lagi mengikuti gerakan angin dengan tersenyum gembira.

Bobo : Petualangan Momo

Foto Petualangan Momo

Ini dia dongeng keduaku:

Gelap dan sunyi. Sudah lama Momo ingin menikmati udara segar dan bermain bersama Randi. Tapi, hari itu tak kunjung tiba. Momo masih terus mendekam di tempat yang penuh debu, yang bernama gudang.

Tapi suatu ketika, mata Momo membelalak tatkala pintu gudang terbuka. Ada seseorang yang mengangkatnya dan membawanya keluar. Momo kenal sosok itu. Dia adalah ayah Randi. Momo senang bukan main. Pasti Randi sebentar lagi akan naik di badannya, kemudian membawanya berputar-putar keliling komplek seperti dulu.

“Selamat bersenang-senang,” ucap semua penghuni gudang.

Momo tersenyum senang. Tapi, alangkah terkejutnya Momo ketika ia diberikan kepada seorang Pak Tua. Sontak senyum Momo hilang. Ia kecewa karena dirinya harus berpindah tangan. Ada apa ini? Apa Randi dan keluarganya tak lagi sayang padanya?

**

“Hai… namaku Riyu-Riyu,” sapa mobil warna merah jambu ramah.

“Namaku Momo,” jawab Momo sedih.

Momo memandangi dirinya yang kini berada di atas kereta dengan tiga mobil mainan lainnya. Hanya Riyu-Riyu yang tampak ramah, sedang yang lainnya cuek.

“Harusnya aku yang berada di depan, bukan dia,” bisik Mobil Biru.

“Iya. Seharusnya kita yang ada di depan, bukan Riyu-Riyu dan mobil baru itu,” kata Mobil Hitam.

Pak Tua datang. Lalu Pak Tua mendorong kereta odong-odongnya menuju jalanan. Riyu-Riyu dan mobil lainnya bergembira. Sedangkan Momo hanya diam karena tak mengerti.

“Kita akan ke lokasi wisata. Nanti kita akan bertemu anak-anak di sana. Pasti kamu akan suka,” seru Riyu-Riyu.

“Benarkah?” ucap Momo tak percaya.

Momo, Riyu-Riyu dan lainnya terus melaju bersama Pak Tua. Mereka melewati rumah-rumah warga yang hampir semuanya memajang kerajinan kulit. Kemudian mereka melintasi jalan raya Kludan Tanggulangin dan masuk area Perumahan Permata Sidoarjo Regency. Mereka berhenti di kawasan Permata Water Park. Ternyata ada banyak macam permainan anak-anak balita di sana. Ada kereta kelici, ada komidi putar mini, ada kolam bola, ada kolam pemancingan berisi ikan mainan, dan lain-lain.

Di tempat itu ada warung-warung makanan berjejer rapi. Penjual mainan dan aksesoris pun ada. Tempat yang benar-benar menyenangkan, batin Momo. Tapi, di dalam hatinya ia masih merindukan Randi.

“Randi?” ucap Momo. Ia melihat rombongan orang dewasa yang menggendong anak-anak kecil yang baru turun dari bus mini.

Momo terus mencari sosok Randi, tapi tak ada.

“Mereka itu mau berenang di Permata Water Park,” kata Riyu-Riyu memberitahu.

Momo mengangguk, kemudian ia mengedarkan pendangannya ke arah lain.

“Lihat! Ada banyak bus besar di sana,” seru Momo.

“Iya. Para penumpang bus-bus itu dari luar kota, bahkan kadang dari luar Jawa. Biasanya, mereka akan memborong aneka kerajinan kulit. Seperti tas, sepatu, koper, jaket, dan lain-lain. Buatan para pengrajin Sidoarjo bagus-bagus, lho. Murah lagi,” kata Riyu-Riyu.

Momo manggut-manggut.

“Tempat wisata kerajinan kulit Tanggulangin Sidoarjo ini sangat terkenal. Salah satunya toko besar itu,” seru Riyu-Riyu menunjuk sebuah bangunan megah yang tak jauh dari mereka.

“Oh iya, aku pernah dengar. Bunda Randi sering membeli tas di sana,” ucap Momo.

**

Waktu terus berlalu, namun belum ada pengunjung yang menggunakan jasa odong-odong Pak Tua.

“Kasihan Pak Tua,” ucap Riyu-Riyu.

“Semuanya gara-gara dia,” tunjuk Mobil Hitam ke Momo.

“Coba kalau aku yang berada di depan, pasti akan banyak pengunjung yang tertarik,” timpal Mobil Biru.

Merasa disalahkan seperti itu, Momo jadi sedih sekali. Tapi… Hey… tiba-tiba badannya terasa berat. Seorang anak kecil sudah diatasnya. Kini badan Momo dan lainnya bergerak maju mundur diiringi lagu anak-anak. Rupanya Pak Tua sedang menggowes kereta odong-odongnya. Lama-kelamaan kereta odong-odong Pak Tua terisi penuh.

“Oh… tidaaak…,” Momo menjerit.

Riyu-Riyu kaget. Sedangkan Mobil Hitam dan Mobil Biru tertawa terpingkal-pingkal melihat Momo. Badan Momo basah. Anak kecil itu pipis di badan Momo.

“Tak apa, Momo. Nanti akan dilap Pak Tua,” hibur Riyu-Riyu.

Momo mendengus kesal. Ia jadi ingin pulang ke rumah Randi. Tapi mana mungkin? Ia pun menunduk sedih. Tiba-tiba terdengar suara klakson motor. Suara motor itu tak asing bagi Momo. Itu suara motor milik ayah Randi. Momo segera mendongakkan kepalanya. Benar. Ada ayah Randi bersama anak laki-laki. Mereka menemui Pak Tua. Lalu Pak Tua mengajak mereka melihat Momo. Anak laki-laki itu mengelus-elus Momo sambil tersenyum. Momo kenal senyum itu. Senyum itu milik Randi.

“Wah… rupanya Randi sudah besar,” gumam Momo.

“Siapa dia?” tanya Riyu-Riyu.

“Dia dulu kawan bermainku ketika ia masih kecil. Ternyata, karena inilah dia tak memakaiku lagi,” kata Momo.

Kini, Momo tak menyesal lagi kenapa harus bersama Pak Tua. Ia lalu berjanji akan selalu tersenyum menyambut anak-anak yang naik kereta odong-odong Pak Tua. Selesai.

*Lokasi cerita benar-benar ada. Dari Permata water Park sampai lokasi wisata kerajinan kulitnya. Dikirim 17 Oktober 2014 dan dimuat tanggal 28 Mei 2015.

RDI : Lucunya anak-anak

Sedih sekali majalah RDI sudah tidak terbit lagi. Ini dua tulisanku yang pernah tayang di majalah RDI

Foto RDI 1

BELI RUMAH*dimuat bulan Mei

“Aku ingin kamar sendiri yang dindingnya warna-warni,” pinta anak saya ketika TK.

”Nanti ya kalau Ayah sudah beli rumah untuk kita,” kata saya.

Suatu hari ada rumah yang dijual dekat rumah kontrakan kami. Kebetulan saya dan suami membicarakan rumah itu. Anak saya girang bukan main.

“Asyiiik…beli rumah,” katanya salah paham.

Esoknya ia telat pulang sekolah. Setelah ditanya ternyata ia diantar teman-temannya mencatat nomor telepon rumah yang dijual itu.

“Sebentar lagi Ayah gajian dan akan beli rumah itu kan, Bu? Aku sudah cerita teman-teman loh.”

Alamaaak… dan berita itu menyebar cepat ke tetangga. Malu.

 

Foto RDI 2

KEMANA ALISMU?*dimuat bulan Juni

Suatu ketika saya sedang memasak. Anak saya saat berusia tiga tahunan asyik bermain di ruang keluarga. Ia bermain sambil berceloteh dan bernyanyi.

“Main apa sayang?” teriak saya dari dapur.

“Boneka,” jawabnya.

Namun lama-lama saya tak mendengar celotehan atau nyanyiannya lagi. Dari jauh saya lihat ia sibuk dengan sesuatu. Saya mendekati dan memanggilnya. Ia pun menoleh.

“Loh… kemana alismu yang satu, Nak?” tanya saya kaget.

“Kucukur pake ini, seperti Ayah,” jawabnya sambil mengacungkan alat cukur kumis.

Gado-gado Femina : Peri Daster

Image313 (2)

“Please…, jangan pakai daster ya…,” kata suami saya diawal pernikahan. Hah? Memangnya kenapa?

Umumnya, wanita akan berusaha tampil cantik dan menarik dalam hal berbusana. Tapi, kebanyakan wanita yang telah menikah dan punya anak akan mengganti busana cantik andalannya dengan… daster. Memang, tidak semua wanita berganti haluan. Tapi mungkin hal itulah yang membuat suami saya memberi peringatan diawal pernikahan.

“Dek… nanti kalau sudah punya anak jangan mobrot-mobrot ya!” katanya lagi.

“Mobrot-mobrot, gimana?” jawab saya nggak ngerti.

“Maksudnya mobrot-mobrot itu tak memperhatikan penampilan lagi karena mentang-mentang sudah laku. Contohnya, kemana-mana pakai daster, bolong-bolong lagi,” jelasnya sambil tertawa.

“Lah, kalau nggak bolong, ya, tidak bisa dipakai dong,” canda saya.

“Intinya, jangan berpenampilan acak-acakan, apalagi kalau suami ada di rumah. Masa pakai daster terus. Tapi, giliran kondangan pakai baju bling-bling dan bagus,” suami terus nyerocos. Rupanya, ia serius dengan peringantannya.

“Ya iyalah… masa kondangan pakai daster,” kata saya tertawa, menggodanya.

“Pokoknya jangan pakai daster ya, please….”

Sampai usia pernikahan 1,5 tahun saya tak punya daster. Sampai akhirnya hamil besar, baru saya membelinya. Tapi, daster-daster itu tak pernah lagi saya pakai setelah melahirkan. Hingga 4 tahun kemudian, saya harus membeli daster kembali karena hamil yang kedua. Dan, seperti sebelumnya, saya tinggalkan daster setelah melahirkan.

Sampai suatu hari saya tertarik dengan obrolan ibu-ibu di facebook. Mereka menyebut diri mereka sebagai Peri Daster. Peri Daster? Wow sebutan yang keren. Kadang-kadang, ibu-ibu ini menceritakan daster kesayangan mereka masing-masing. Seru dan lucu sekali membaca komentar-komentar mereka. Mereka tak sungkan membicarakan daster yang sudah bolong. Hebohnya, acara kopdar pun tak luput dari acara jual beli daster. Karena hal ini, akhirnya saya jadi ingin pake daster lagi, meski tidak hamil. Lalu saya sampaikan niat ini pada suami.

“Mas… saya boleh pakai daster?” tanya saya.

“Daster? Tumben jadi pingin pakai daster,” kata suami, dahinya berkerut.

“Iya, boleh kan? Ada sebutan keren, lho, bagi pemakai daster. Mau tahu nggak?” pancing saya.

“Apaan?” suami ingin tahu.

“Peri Daster,” seru saya.

Mendengar itu, suami tertawa. Wah, kayaknya boleh, nih. Tapi, ow…ow… ternyata suami masih belum mengijinkan.

Hingga suatu hari saya berbelanja di pedagang sayur keliling. Karena takut keburu pergi, terpaksa saya keluar rumah hanya dengan menyambar kerudung dan jaket sekenanya. Dan waktu itu, pakaian yang saya kenakan itu aneh dan amburadul. Memakai celana panjang, kaos oblong, jaket, dan kerudung yang semua warnanya kontras. Suami saya geleng-geleng kepala. Jujur, sebenarnya saya juga nggak pede. Tapi, karena darurat, ya sudahlah. Sepulang berbelanja, suami menegur saya.

“Mbok pakai baju yang pantas, Dek, kalau ke luar rumah. Nanti dikira nggak pernah dibelikan pakaian sama suaminya,” tegurnya halus.

Saya tersenyum. Memang betul apa yang dikatakannya. Lagipula, pakaian yang kita kenakan juga cerminan dari diri kita, kan?

“Makanya mas, izinkan saya jadi Peri Daster, ya? Sekarang kan modelnya bagus-bagus dan cantik-cantik. Daster berlengan panjang juga ada. Boleh ya? Kalaupun mendadak harus keluar, hanya tinggal memakai kerudung, nggak ribet pakai jaket lagi. Jadi nggak berbaju aneh seperti tadi,” kata saya, berusaha meyakinkannya.

Akhirnya, permintaan saya disetujui. Saya pun menjelma menjadi Peri Daster, kecuali jika ‘peri prianya’ ada di rumah. Hahaha….

Tulisan ini dimuat di Gado-gado Femina. Kirim tanggal 25 Juni 2012, konfirmasi diterima tgl 3 Juli 2012, konfirmasi dimuat tgl 4 September 2012, dimuat tgl 20 – 26 Oktober 2012