RDI : Lucunya anak-anak

Sedih sekali majalah RDI sudah tidak terbit lagi. Ini dua tulisanku yang pernah tayang di majalah RDI

Foto RDI 1

BELI RUMAH*dimuat bulan Mei

“Aku ingin kamar sendiri yang dindingnya warna-warni,” pinta anak saya ketika TK.

”Nanti ya kalau Ayah sudah beli rumah untuk kita,” kata saya.

Suatu hari ada rumah yang dijual dekat rumah kontrakan kami. Kebetulan saya dan suami membicarakan rumah itu. Anak saya girang bukan main.

“Asyiiik…beli rumah,” katanya salah paham.

Esoknya ia telat pulang sekolah. Setelah ditanya ternyata ia diantar teman-temannya mencatat nomor telepon rumah yang dijual itu.

“Sebentar lagi Ayah gajian dan akan beli rumah itu kan, Bu? Aku sudah cerita teman-teman loh.”

Alamaaak… dan berita itu menyebar cepat ke tetangga. Malu.

 

Foto RDI 2

KEMANA ALISMU?*dimuat bulan Juni

Suatu ketika saya sedang memasak. Anak saya saat berusia tiga tahunan asyik bermain di ruang keluarga. Ia bermain sambil berceloteh dan bernyanyi.

“Main apa sayang?” teriak saya dari dapur.

“Boneka,” jawabnya.

Namun lama-lama saya tak mendengar celotehan atau nyanyiannya lagi. Dari jauh saya lihat ia sibuk dengan sesuatu. Saya mendekati dan memanggilnya. Ia pun menoleh.

“Loh… kemana alismu yang satu, Nak?” tanya saya kaget.

“Kucukur pake ini, seperti Ayah,” jawabnya sambil mengacungkan alat cukur kumis.

Bobo : Taktik Jitu Kurcaci Tiki

Foto Tak Tik Jitu Kurcaci Tiki

Alhamdulillah dimuat Bobo. Tulisan ini kubuat dengan membuat judul terlebih dulu, yakni TAK TIK JITU KURCACI TIKI. Setelah itu aku baru memikirkan alur cerita dan tokohnya.

Cerita ini kukirim via email tanggal 28 Mei 2014 dan dimuat tanggal 5 Februari 2015. Waktu tunggunya sekitar 8 bulan lebih. Ini dia ceritaku :

“Huh… selalu seperti ini,” dengus kurcaci Tiki memeriksa tiap halaman buku yang ia pegang. Ada banyak coretan hampir ditiap halamannya. Dengan muka kesal lalu Tiki menyemprotkan ramuan ajaib ke coretan-coretan itu. Sebentar kemudian coretan-coretan itu menghilang, dan buku menjadi bersih kembali.

“Jangan mengeluh. Sudah menjadi tugas kita sebagai kurcaci Penjaga Perpustakaan untuk merawat buku-buku ini,” ucap Perp, kurcaci berkaca mata merapikan buku-buku di rak.

Mendengar kata-kata Perp, kurcaci Tiki hanya bisa diam dengan muka masam. Dalam hati ia bertanya, kenapa manusia-manusia itu tak bisa merawat buku dengan baik? Selalu saja buku-buku yang mereka pinjam, kembali tidak dalam keadaan seperti semula. Kadang ada coretan, lipatan-lipatan, lecek, bahkan ada yang sobek.

Lalu Tiki meletakkan buku yang sudah ia bersihkan ke rak hijau. “Hei… buku dongeng letaknya di rak merah,” ucap Perp mengingatkan. Tiki tertawa kecil. Ia memang kurcaci yang pelupa. Tiki pun segera meletakkan bukunya tadi ke rak merah. Kemudian ia kembali ke tempat duduknya. Tapi ia mendadak kebingungan. Kedua alisnya bertaut. Ia menoleh kesana-kemari, mencari sesuatu. “Ada yang melihat botol ramuan ajaibku?” tanyanya.

“Ada di sakumu,” jawab kurcaci-kurcaci penjaga perputakaan serempak. Ya… Tiki selalu saja lupa.

“Ya ampuuun… lihatlah teman-teman. Buku ini jorok sekali. Ada banyak minyak di sana-sini,” teriak Noe kurcaci yang paling gendut.

Tiki dan Perp menoleh kearah Noe bersamaan. Lalu mereka menghampiri Noe dan melihat buku yang ia pegang.

“Bekas minyak dibuku ini sudah kucoba hilangkan dengan ramuan ajaib, tapi tidak bisa,” ucap Noe.

“Ini sudah tak bisa dibiarkan. Kita harus melakukan sesuatu. Karena kalau tidak, buku-buku ini bisa rusak semuanya,” seru kurcaci Tiki.

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Perp sambil membetulkan kacamatanya. Tiki tak menjawab. Ia sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan kurcaci-kurcaci lainnya menatap Tiki dengan wajah keheranan.

Keesokan paginya Tiki mengambil semua botol-botol ramuan ajaib dan memasukkannya ke dalam kantong. Kemudian ia mengendap-endap menuju pintu perpustakaan. Ia pergi tanpa sepengetahuan teman-temannya.

Hari menjelang siang. Seperti biasa perpustakaan selalu ramai dikunjungi para siswa saat istirahat. Kurcaci-kurcaci penjaga perpustakaan mengamati para siswa dari balik buku-buku.

“Hei… jangan menumpuk buku dalam jumlah banyak. Nanti buku-buku itu bisa rusak, lembarannya bisa saling menempel, dan jilidnya bisa gampang lepas,” teriak Tiki marah pada seorang siswa diantara buku-buku pelajaran.

“Hei… kamu, jangan membaca buku sambil makan snack. Minyaknya bisa menempel di buku,” teriaknya lagi pada siswa berbadan gemuk. Tapi percuma, siswa itu tak mendengar suaranya.

Jam sekolah berakhir. Kini tugas para kurcaci dimulai kembali seperti biasanya. Mereka harus merapikan buku-buku yang baru dipinjam para siswa. Dari merapikan buku yang ada lipatannya, membersihkan buku yang ada coretan-coretannya dan lain-lain.

“Ramuan ajaib kita hilang,” teriak Noe heboh. Kurcaci-kurcaci lainnya pun kaget.

“Bagaimana ini? Kita takkan bisa melakukan tugas dengan baik tanpa ramuan ajaib itu,” kata Perp. Tiki pura-pura tidak tahu.

Seminggu berlalu dan botol-botol ramuan ajaib itu belum ditemukan. Hari ini Pak Dendi petugas perpustakaan banyak mendapat keluhan dari siswa. Mereka mengeluhkan buku-buku yang rusak dan tidak rapi seperti biasanya. “Bukunya kenapa lecek begini, Pak? Banyak lipatan lagi,” tanya anak perempuan berkacamata.

“Pak… Kok bukunya jorok begini?” tanya anak laki-laki bertubuh gemuk. Dan banyak keluhan-keluhan lainnya.

Pak Dendi pun melihat buku daftar peminjaman buku. Dengan begitu Pak Dendi bisa tahu siapa-siapa yang terakhir meminjam buku dan mengembalikannya dalam keaadaan rusak. Maka siswa itulah yang harus bertanggung-jawab.

Setelah kejadian itu akhirnya banyak siswa menyadari akan pentingnya memperlakukan buku dengan baik. Sebab buku adalah sumber ilmu, harus dijaga dan dirawat.

Kini mereka tak lagi melipat lembaran buku yang mereka baca, tapi mereka menggunakan pembatas buku. Mereka tak mencoret-coret buku lagi. Mereka tak mengotori atau merusak buku lagi. Pak Dendi senang, demikian juga dengan Tiki dan kurcaci-kurcaci lainnya.

“Taktikku berhasil. Tak sia-sia aku menyembunyikan botol-botol ramuan ajaib itu. Ya biar manusia-manusia itu tahu akan kesalahannya,” ucap Tiki senang.

“Apa?” tanya Perp.

“Oh… tidak apa-apa,” sahut Tiki cepat. Kemudian ia memikirkan sesuatu.

“Meski manusia-manusia itu sudah menyayangi buku, kita harus tetap ikut merawat buku-buku di perpustakaan ini,” ujar Perp.

“Lalu apa kita masih memerlukan botol-botol ramuan ajaib yang telah hilang itu?” tanya Noe.

“Hmmm… bagaimana menurutmu, Tiki?” tanya Perp.

Mendengar pertanyaan Perp, kurcaci Tiki gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa. Sebab ia lupa dimana menyimpan botol-botol ramuan ajaib itu. Dan hingga saat inipun belum ditemukan. Apakah kalian tahu dimana botol-botol itu berada? SELESAI.

Gado-gado Femina : Peri Daster

Image313 (2)

“Please…, jangan pakai daster ya…,” kata suami saya diawal pernikahan. Hah? Memangnya kenapa?

Umumnya, wanita akan berusaha tampil cantik dan menarik dalam hal berbusana. Tapi, kebanyakan wanita yang telah menikah dan punya anak akan mengganti busana cantik andalannya dengan… daster. Memang, tidak semua wanita berganti haluan. Tapi mungkin hal itulah yang membuat suami saya memberi peringatan diawal pernikahan.

“Dek… nanti kalau sudah punya anak jangan mobrot-mobrot ya!” katanya lagi.

“Mobrot-mobrot, gimana?” jawab saya nggak ngerti.

“Maksudnya mobrot-mobrot itu tak memperhatikan penampilan lagi karena mentang-mentang sudah laku. Contohnya, kemana-mana pakai daster, bolong-bolong lagi,” jelasnya sambil tertawa.

“Lah, kalau nggak bolong, ya, tidak bisa dipakai dong,” canda saya.

“Intinya, jangan berpenampilan acak-acakan, apalagi kalau suami ada di rumah. Masa pakai daster terus. Tapi, giliran kondangan pakai baju bling-bling dan bagus,” suami terus nyerocos. Rupanya, ia serius dengan peringantannya.

“Ya iyalah… masa kondangan pakai daster,” kata saya tertawa, menggodanya.

“Pokoknya jangan pakai daster ya, please….”

Sampai usia pernikahan 1,5 tahun saya tak punya daster. Sampai akhirnya hamil besar, baru saya membelinya. Tapi, daster-daster itu tak pernah lagi saya pakai setelah melahirkan. Hingga 4 tahun kemudian, saya harus membeli daster kembali karena hamil yang kedua. Dan, seperti sebelumnya, saya tinggalkan daster setelah melahirkan.

Sampai suatu hari saya tertarik dengan obrolan ibu-ibu di facebook. Mereka menyebut diri mereka sebagai Peri Daster. Peri Daster? Wow sebutan yang keren. Kadang-kadang, ibu-ibu ini menceritakan daster kesayangan mereka masing-masing. Seru dan lucu sekali membaca komentar-komentar mereka. Mereka tak sungkan membicarakan daster yang sudah bolong. Hebohnya, acara kopdar pun tak luput dari acara jual beli daster. Karena hal ini, akhirnya saya jadi ingin pake daster lagi, meski tidak hamil. Lalu saya sampaikan niat ini pada suami.

“Mas… saya boleh pakai daster?” tanya saya.

“Daster? Tumben jadi pingin pakai daster,” kata suami, dahinya berkerut.

“Iya, boleh kan? Ada sebutan keren, lho, bagi pemakai daster. Mau tahu nggak?” pancing saya.

“Apaan?” suami ingin tahu.

“Peri Daster,” seru saya.

Mendengar itu, suami tertawa. Wah, kayaknya boleh, nih. Tapi, ow…ow… ternyata suami masih belum mengijinkan.

Hingga suatu hari saya berbelanja di pedagang sayur keliling. Karena takut keburu pergi, terpaksa saya keluar rumah hanya dengan menyambar kerudung dan jaket sekenanya. Dan waktu itu, pakaian yang saya kenakan itu aneh dan amburadul. Memakai celana panjang, kaos oblong, jaket, dan kerudung yang semua warnanya kontras. Suami saya geleng-geleng kepala. Jujur, sebenarnya saya juga nggak pede. Tapi, karena darurat, ya sudahlah. Sepulang berbelanja, suami menegur saya.

“Mbok pakai baju yang pantas, Dek, kalau ke luar rumah. Nanti dikira nggak pernah dibelikan pakaian sama suaminya,” tegurnya halus.

Saya tersenyum. Memang betul apa yang dikatakannya. Lagipula, pakaian yang kita kenakan juga cerminan dari diri kita, kan?

“Makanya mas, izinkan saya jadi Peri Daster, ya? Sekarang kan modelnya bagus-bagus dan cantik-cantik. Daster berlengan panjang juga ada. Boleh ya? Kalaupun mendadak harus keluar, hanya tinggal memakai kerudung, nggak ribet pakai jaket lagi. Jadi nggak berbaju aneh seperti tadi,” kata saya, berusaha meyakinkannya.

Akhirnya, permintaan saya disetujui. Saya pun menjelma menjadi Peri Daster, kecuali jika ‘peri prianya’ ada di rumah. Hahaha….

Tulisan ini dimuat di Gado-gado Femina. Kirim tanggal 25 Juni 2012, konfirmasi diterima tgl 3 Juli 2012, konfirmasi dimuat tgl 4 September 2012, dimuat tgl 20 – 26 Oktober 2012