Senyum Kemiri

Untitled

Aku sudah bosan dengan rambut pendek sebahu. Aku ingin sekali punya rambut panjang seperti Tiara. Yang jika digerai akan tampak indah dan bagus sekali. Selain itu bisa dikepang, atau dikuncir dengan karet warna-warni. Tapi, Mama tak pernah mengijinkan.
“Amanda… ini Mama bawa bandana baru. Ada mutiaranya, cantik sekali,” ucap Mama mengulurkan tas plastik kecil berlogo toko aksesoris langganannya.
“Mama lama sekali pulangnya?” tanyaku.
Mama tersenyum. Lalu Mama melepas sepatu dan meletakkannya di rak. Kemudian Mama menghampiriku.
“Sepulang kerja tadi, Mama mampir dulu ke toko aksesoris. Beli bandana ini, buat kamu sayang. Ini model terbaru lho,” jelas Mama.
“Bandana Amanda kan sudah banyak, Ma?” kataku.
“Nggak apa-apa. Biar Amanda bisa ganti-ganti bandananya. Biar nggak bosan,” kata Mama lalu meninggalkanku ke kamar.
Kupandangi bandana baru dari Mama. Lalu kucoba di kepalaku dan bercermin. Tidak ada yang spesial. Bagiku, bandana ini sama saja dengan bandana-bandana lain yang sudah kupunya.
“Senyum dong, biar cantik,” kata Mama seusai ganti baju.
“Ma… bolehkan kalau rambutku panjang seperti Tiara?” tanyaku hati-hati.
Mama langsung menggeleng cepat, seperti biasa.
“Punya rambut panjang itu repot, nanti menyisirnya jadi lebih lama,” kata Mama.
Aku pun cemberut.
**
“Rambut Tiara bagus sekali, Tante. Tebal dan hitam berkilau. Sering dirawat ke salon, ya?” tanyaku suatu hari ketika main ke rumah Tiara.
Tante Mira yang sedang mengepang rambut Tiara, menggeleng tersenyum. Sedangkan Tiara cekikikan mendengar pertanyaanku. Ah, masa sih nggak pernah? Tanyaku dalam hati.
“Aku ingin punya rambut panjang seperti Tiara, Tante. Tapi, Mama selalu melarangku,” kataku kemudian.
“Kenapa?” tanya Tante Mira.
“Kata Mama, punya rambut panjang itu repot dan mahal karena harus dirawat di salon. Mamaku pelit ya, Tante,” jawabku sedih.
“Bukan pelit. Mungkin Mama punya maksud lain. Biar Amanda lebih mudah menyisir rambut sendiri, misalnya,” jelas Ibu Tiara.
**
“Kok anak Mama sekarang nggak pernah lagi tersenyum kalau sedang bercermin? Kenapa?” tanya Mama.
Aku hanya geleng-geleng kepala. Kemudian Mama memanggilku agar duduk di sebelahnya. Tangan Mama membawa cawan kecil.
“Tadi pagi Mama mendapat resep ajaib. Lalu Mama tertarik untuk membuatnya,” Mama bercerita.
“Resep ajaib? Dari siapa?” tanyaku mulai tertarik.
Mama mengangguk. Lalu menyuruhku duduk membelakangi Mama. Kemudian Mama mengoleskan minyak di kulit kepalaku sambil memijat-mijat.
“Resep ajaib ini dari Tante Mira. Amanda ingin punya rambut tebal dan hitam seperti Tiara, ya? ” ujar Mama masih mengolesi rambutku.
“Iya,” jawabku.
“Kalau begitu tiap hari libur Mama akan mengolesi rambut Amanda dengan minyak kemiri ini,” kata Mama tersenyum.
“Kemiri? Bumbu dapur yang bentuknya hampir bulat itu?” tanyaku.
“Iya. Kemirinya ditumbuk dan disangrai, agar minyaknya keluar,” jelas Mama.
Hatiku riang gembira. Aku berharap ini tanda bahwa Mama akan membolehkanku mempunyai rambut panjang seperti Tiara.
“Mama sedih loh, Amanda sekarang nggak mau pakai bandana yang dibelikan Mama,” ucap Mama kemudian.
Aku kaget mendengarnya. Lalu aku menghadap Mama, sehingga Mama terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ada perasaan bersalah ketika aku melihat Mama bersedih.
“Maaf, Ma. Tapi aku sudah bosan pakai bandana di rambutku yang pendek ini,” kataku akhirnya.
Mama menghela napas panjang.
“Amanda boleh punya rambut panjang, tapi tidak sekarang. Tahun depan saja, ya? Saat itu pasti Amanda sudah semakin besar dan semakin pandai merawat dan menyisir rambut sendiri,” kata Mama.
Aku mengangguk senang. Kupeluk Mama dan mengucapkan terimakasih padanya. Senyumku pun mengembang. Senyum rasa kemiri. Selesai.

Bobo : Bibi Es Krim

Bibi eskrim

Aku dan Nina senang sekali. Kami baru saja memasukkan dua lembar uang lima ribuan ke celengan. Tante Cantik memang baik. Selalu memberi uang ketika berkunjung ke rumah.
“Wah, anak-anak Ibu rupanya lagi senang, ya?” tanya Ibu.
“Kalau Tante Cantik datang, celengan kami jadi gendut, Bu,” kataku girang. Nina pun tertawa lebar sambil mengocok celengannya.
**
Sudah lama rasanya tak bertemu dengan Tante Cantik. Kata Ibu, Tante Cantik sakit, jadi tak bisa sering-sering lagi datang ke rumah kami.
“Ayu… tolong bantu Ibu membersihkan kamar tamu, ya? Nanti sore ada tamu spesial yang datang,” jawab Ibu.
“Asyiiik… Tante Cantik mau datang lagi,” seruku pada Nina. Nina ikut-ikutan girang. Ibu hanya tersenyum.
“Yang bersih dan rapi, ya,” pesan Ibu meninggalkan kami menuju dapur.
Pasti Ibu mau membuat roti bolu pandan kesukaan Tante Cantik. Setelah kamar tamu sudah siap dibersihkan, aku dan Nina ke dapur. Ingin membantu Ibu membuat roti bolu pandan.
“Ayu… tolong petikkan tiga helai daun jeruk, ya,” kata Ibu.
“Siap Bu. Dengan senang hati,” seruku.
Dengan semangat aku menuju kebun kecil kami yang ada di halaman rumah. Ah, rasanya sudah tak sabar menunggu kedatangan Tante Cantik. Tapi, buat apa daun jeruk ya? Memangnya ada kue bolu rasa daun jeruk?
“Daun jeruknya untuk apa sih, Bu?” tanyaku sambil mengulurkan daun-daunan yang biasanya untuk memasak itu.
“Untuk masak rawon, buat menyambut tamu kita,” jawab Ibu.
Wah… ternyata Ibu mau membuat masakan berkuah hitam kesukaanku dan Nina.
“Rawon? Tante Cantik kan tak suka rawon?” tanya Nina.
Nina benar. Oh… tidak, jangan-jangan bukan Tante Cantik yang akan datang. Tapi…
**
Tamu kami sudah datang dari kemarin. Orangnya cerewet sekali. Kami nggak boleh nonton TV lama-lama, apalagi main game. Tidur nggak boleh malam-malam, dan saat pagi tak boleh malas-malasan meski tidak sekolah.
Saat sang tamu berbincang dengan Ibu di ruang depan, aku dan Nina segera berlari ke dapur. Aku mengambil cobek dan ulekan.
“Untuk apa, Kak?” tanya Nina.
“Aku pernah dengar dari temanku, katanya cara ini ampuh untuk mengusir tamu. Percaya nggak percaya sih. Tapi ah biarlah, siapa tahu manjur,” jawabku.
Dengan semangat aku mengulek cobek kosong. Kemudian aku meminta Nina untuk mengintip ke ruang tamu. Nina menggelengkan kepala. Itu artinya tak ada tanda-tanda bahwa Bibi Cerewet akan pamit pulang. Aku pun ikut mengintip. Dan benar saja, ternyata Ibu dan Bibi Cerewet masih saja asyik berbincang-bincang.
Lalu aku kembali mengulek cobek kosong lagi. Semakin ingat omelan Bibi Cerewet, semakin semangat pula aku mengulek.
“Sedang apa, Ayu? Berisik sekali suaranya.”
“Lagi ngulek cobek kosong, Bu. Biar Bibi Cerewet segera pulang,” kataku.
“Sst.. sst…,” Nina menarik-narik rokku, sepertinya ingin menyuruhku diam. Tapi aku tak peduli.
“Ayu nggak mau diomelin Bibi Cerewet lagi, Bu. Enakan Tante Cantik yang datang,” kataku nyerocos masih ngulek cobek kosong.
Terdengar tawa berderai di belakangku. Aku menoleh cepat. Ternyata ada Bibi Cerewet bersama Ibu. Duh, malunya aku.
“Itu tidak benar, Yu. Kata siapa ngulek cobek bisa ngusir Bibi?” Ibu tertawa. Bibi tersenyum mendekati kami.
“Bibi itu sayang kalian. Kenapa sih Bibi meminta kalian agar tidak malas bergerak? Sebab bisa bahaya lho, tulang kalian bisa keropos seperti Tante Cantik,” kata Bibi Cerewet.
“Tulang Tante Cantik keropos?” tanyaku.
“Iya, namanya osteoporosis,” jawab Bibi Cerewet.
**
Hari ini Bibi mengajakku dan Nina jalan-jalan pagi. Kata Bibi, jalan kaki membuat sehat.
“Ayo ayunkan tangan kalian,” seru Bibi Cerewet.
Kami menirukan gaya Bibi, agar tak dicereweti lagi. Kami terus berjalan sampai akhirnya berhenti di lapangan. Ada banyak orang dan anak-anak di sana.
Lalu Bibi mengajak kami senam seperti yang lainnya. Awalnya aku enggan, tapi ternyata asyik juga menggerak-gerakan kepala dan badan. Seperti menoleh ke kanan dan ke kiri, mengayunkan tangan, dan melompat.
“Senam membuat badan kita sehat,” kata Bibi semangat.
Aku dan Nina ikut semangat. Sampai tak terasa lagu yang mengiringi senam habis. Badanku berkeringat dan lelah sekali.
Tak lama kemudian Bibi datang. Bibi membawa eskrim dan menyodorkannya kepadaku.
“Ayo dimakan eskrimnya, nanti keburu meleleh. Biar Bibi kalian yang cerewet ini senang,” kata Bibi tersenyum.
Mukaku memerah, malu sekali. Sejak saat itu aku dan Nina tak lagi memanggil Bibi kami dengan sebutan Bibi Cerewet. Kami memanggilnya dengan sebutan Bibi Eskrim. Karena tiap liburan, Bibi datang mengajak kami jalan dan senam lalu membeli eskrim. Selesai.

Bobo : Tarian Pohon Mengkudu

Foto Tarian Pohon Mengkudu

Ini dongengku yang ketiga di BOBO. Gambarnya rame, seneng lihatnya. Cerita ini terinspirasi dari pohon mengkudu tetangga. Selamat membaca. ^^

Namanya Pohon Mengkudu. Pohon yang dikenal dengan buah buruk rupa ini, suka menari jika ada angin yang menerpanya.

“Hmmm… haruuum…,” ucap Pohon Mengkudu meliuk-liuk mengikuti gerakan angin. Ia terus menerus mengendus aroma bunga mangga yang ada disekitarnya. Pohon Mengkudu memang suka aroma wangi bunga mangga. Pohon-pohon mangga jadi tersenyum geli melihatnya.

“Wah… lihat! Pohon Mengkudu sedang menari,” kata Pohon Mangga Gadung.

“Kamu benar-benar lucu, Pohon Mengkudu,” seru Pohon Mangga Manalagi.

“Iya… ya. Dia selalu membuat kita tertawa,” sahut Pohon Mangga Madu.

Mendengar itu, Pohon Mengkudu terus menggoyang-goyangkan badannya. Ia senang dengan ucapan teman-temannya. Namun tiba-tiba angin besar berhembus dan merontokkan buah-buah Pohon Mengkudu.

Anak-anak kecil yang kebetulan lewat, mengambil buah-buah itu. Lalu mereka saling melempar dan membuangnya. Bahkan ada pula yang menginjak-injak atau membanting buah kuning kehijauan itu. Pohon Mengkudu jadi sedih sekali.

**

“Wah… asyiiik…, sebentar lagi buah-buahku akan di panen,” kata Pohon Mangga Gadung.

“Iya. Bahkan buahku yang masih muda pun juga dipanen, karena sudah manis,” seru Pohon Mangga Manalagi.

“Buahku juga manis, lho,” sahut Pohon Mangga Madu tak mau kalah.

Pohon-pohon mangga itu sedang bergembira. Bunga-bunga mereka sudah berganti menjadi buah yang siap panen.

“Buahku juga siap dipanen, lho,” teriak Pohon Mengkudu memberitahu. Ia tersenyum sambil terus menari-nari karena hembusan angin.

Pohon-pohon mangga tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sebagian ada yang sampai terbatuk-batuk. Pohon Mengkudu masih tersenyum. Dikiranya, pohon mangga-mangga itu sedang tertawa melihat tariannya.

“Tapi, yang suka buah kamu itu cuma Kakek Suto,” kata Pohon Mangga Gadung tertawa.

“Anak-anak kecil di sini tidak suka buah mengkudu. Hihihi…,” Pohon Mangga Manalagi terkekeh. Pohon Mengkudu berhenti menari. Mukanya cemberut.

“Teman-teman… hentikan gurauan kalian. Lihat, Pohon Mengkudu jadi bersedih!” ucap Pohon Mangga Madu.

Pohon Mangga Gadung dan Manalagi langsung menghentikan tawa mereka. Sejak saat itu Pohon Mengkudu selalu bersedih, ia tak mau tersenyum walaupun sedang menari bersama angin. Ia baru tersenyum jika Kakek Suto mengambil buah-buahnya.

**

“Kemana ya, Kakek Suto? Harusnya ia sudah mengambil buah-buahku lagi,” gumam Pohon Mengkudu.

“Hei… Kakek Suto datang. Pasti ia akan mengambil buah-buahmu,” seru Pohon Mangga Madu.

Kakek Suto datang bersama cucu-cucunya. Ia membawa galah dan keranjang kecil. Pohon Mengkudu bergembira. Tapi, Kakek Suto berhenti di bawah pohon mangga madu. Dengan galah tersebut, Kakek Suto mengambil buah-buah mangga yang siap dipetik. Kedua cucu Kakek Suto senang sekali. Mereka akan membuat jus mangga, katanya.

Pohon Mengkudu memperhatikan cucu Kakek Suto. Sari dan Doni namanya, begitu Kakek Suto tadi memanggil mereka.

“Alangkah bahagianya aku jika anak-anak itu juga menyukai buahku,” kata Pohon Mengkudu menunduk sedih.

Pohon Mangga Madu melirik Pohon Mengkudu. Tadinya ia bergembira karena sedang dipanen Kakek Suto, tapi kini tak berani menampakkan rasa bahagianya lagi.

“Pohon Mengkudu… , jangan bersedih dong. Percayalah… pasti suatu hari nanti anak-anak juga akan suka padamu,” hibur Pohon Mangga Madu.

Pohon Mengkudu diam. Ia tahu Pohon Mangga Madu hanya menghiburnya saja. Tapi, Pohon Mengkudu jadi deg-degan setelah Kakek Suto dan kedua cucunya menghampiri dirinya. Mau apa ya? Pikir Pohon Mengkudu.

“Ini pohon kesayangan Kakek. Buah-buahnya selalu membuat Kakek sehat, tidak terkena tekanan darah tinggi. Buah-buah ini juga bisa mengobati sakit demam, batuk dan sakit perut, lho,” ucap Kakek Suto pada Sari dan Doni. Kedua cucu Kakek Suto manggut-manggut.

“Pohon ini juga bisa menghilangkan sisik kaki kalian. Ayo, Kakek tunjukkan caranya,” ucap Kakek.

Lalu Kakek Suto mengambil buah mengkudu yang masak. Kemudian menggosok-gosokkan buah itu ke kaki. Sari dan Doni pun mengikuti apa yang dilakukan Kakek Suto.

“Sedang apa, Kek?” tanya anak-anak yang suka main lempar-lemparan buah mengkudu.

“Membersihkan kaki yang bersisik. Setelah digosokkan, biarkan 5-10 menit. Setelah itu bersihkan dengan kain bersih yang dibasahi air hangat. Ayo, kalian boleh mencobanya,” ucap Kakek Suto.

Seketika anak-anak itu menirukan apa yang dilakukan Kakek Suto, Sari dan Doni. Mereka melakukan dengan tertawa riang. Mereka tak menyangka, buah yang biasanya mereka buang dan injak-injak, ternyata ada manfaatnya. Pohon Mengkudu terharu. Ia pun mulai menari lagi mengikuti gerakan angin dengan tersenyum gembira.

Bobo : Petualangan Momo

Foto Petualangan Momo

Ini dia dongeng keduaku:

Gelap dan sunyi. Sudah lama Momo ingin menikmati udara segar dan bermain bersama Randi. Tapi, hari itu tak kunjung tiba. Momo masih terus mendekam di tempat yang penuh debu, yang bernama gudang.

Tapi suatu ketika, mata Momo membelalak tatkala pintu gudang terbuka. Ada seseorang yang mengangkatnya dan membawanya keluar. Momo kenal sosok itu. Dia adalah ayah Randi. Momo senang bukan main. Pasti Randi sebentar lagi akan naik di badannya, kemudian membawanya berputar-putar keliling komplek seperti dulu.

“Selamat bersenang-senang,” ucap semua penghuni gudang.

Momo tersenyum senang. Tapi, alangkah terkejutnya Momo ketika ia diberikan kepada seorang Pak Tua. Sontak senyum Momo hilang. Ia kecewa karena dirinya harus berpindah tangan. Ada apa ini? Apa Randi dan keluarganya tak lagi sayang padanya?

**

“Hai… namaku Riyu-Riyu,” sapa mobil warna merah jambu ramah.

“Namaku Momo,” jawab Momo sedih.

Momo memandangi dirinya yang kini berada di atas kereta dengan tiga mobil mainan lainnya. Hanya Riyu-Riyu yang tampak ramah, sedang yang lainnya cuek.

“Harusnya aku yang berada di depan, bukan dia,” bisik Mobil Biru.

“Iya. Seharusnya kita yang ada di depan, bukan Riyu-Riyu dan mobil baru itu,” kata Mobil Hitam.

Pak Tua datang. Lalu Pak Tua mendorong kereta odong-odongnya menuju jalanan. Riyu-Riyu dan mobil lainnya bergembira. Sedangkan Momo hanya diam karena tak mengerti.

“Kita akan ke lokasi wisata. Nanti kita akan bertemu anak-anak di sana. Pasti kamu akan suka,” seru Riyu-Riyu.

“Benarkah?” ucap Momo tak percaya.

Momo, Riyu-Riyu dan lainnya terus melaju bersama Pak Tua. Mereka melewati rumah-rumah warga yang hampir semuanya memajang kerajinan kulit. Kemudian mereka melintasi jalan raya Kludan Tanggulangin dan masuk area Perumahan Permata Sidoarjo Regency. Mereka berhenti di kawasan Permata Water Park. Ternyata ada banyak macam permainan anak-anak balita di sana. Ada kereta kelici, ada komidi putar mini, ada kolam bola, ada kolam pemancingan berisi ikan mainan, dan lain-lain.

Di tempat itu ada warung-warung makanan berjejer rapi. Penjual mainan dan aksesoris pun ada. Tempat yang benar-benar menyenangkan, batin Momo. Tapi, di dalam hatinya ia masih merindukan Randi.

“Randi?” ucap Momo. Ia melihat rombongan orang dewasa yang menggendong anak-anak kecil yang baru turun dari bus mini.

Momo terus mencari sosok Randi, tapi tak ada.

“Mereka itu mau berenang di Permata Water Park,” kata Riyu-Riyu memberitahu.

Momo mengangguk, kemudian ia mengedarkan pendangannya ke arah lain.

“Lihat! Ada banyak bus besar di sana,” seru Momo.

“Iya. Para penumpang bus-bus itu dari luar kota, bahkan kadang dari luar Jawa. Biasanya, mereka akan memborong aneka kerajinan kulit. Seperti tas, sepatu, koper, jaket, dan lain-lain. Buatan para pengrajin Sidoarjo bagus-bagus, lho. Murah lagi,” kata Riyu-Riyu.

Momo manggut-manggut.

“Tempat wisata kerajinan kulit Tanggulangin Sidoarjo ini sangat terkenal. Salah satunya toko besar itu,” seru Riyu-Riyu menunjuk sebuah bangunan megah yang tak jauh dari mereka.

“Oh iya, aku pernah dengar. Bunda Randi sering membeli tas di sana,” ucap Momo.

**

Waktu terus berlalu, namun belum ada pengunjung yang menggunakan jasa odong-odong Pak Tua.

“Kasihan Pak Tua,” ucap Riyu-Riyu.

“Semuanya gara-gara dia,” tunjuk Mobil Hitam ke Momo.

“Coba kalau aku yang berada di depan, pasti akan banyak pengunjung yang tertarik,” timpal Mobil Biru.

Merasa disalahkan seperti itu, Momo jadi sedih sekali. Tapi… Hey… tiba-tiba badannya terasa berat. Seorang anak kecil sudah diatasnya. Kini badan Momo dan lainnya bergerak maju mundur diiringi lagu anak-anak. Rupanya Pak Tua sedang menggowes kereta odong-odongnya. Lama-kelamaan kereta odong-odong Pak Tua terisi penuh.

“Oh… tidaaak…,” Momo menjerit.

Riyu-Riyu kaget. Sedangkan Mobil Hitam dan Mobil Biru tertawa terpingkal-pingkal melihat Momo. Badan Momo basah. Anak kecil itu pipis di badan Momo.

“Tak apa, Momo. Nanti akan dilap Pak Tua,” hibur Riyu-Riyu.

Momo mendengus kesal. Ia jadi ingin pulang ke rumah Randi. Tapi mana mungkin? Ia pun menunduk sedih. Tiba-tiba terdengar suara klakson motor. Suara motor itu tak asing bagi Momo. Itu suara motor milik ayah Randi. Momo segera mendongakkan kepalanya. Benar. Ada ayah Randi bersama anak laki-laki. Mereka menemui Pak Tua. Lalu Pak Tua mengajak mereka melihat Momo. Anak laki-laki itu mengelus-elus Momo sambil tersenyum. Momo kenal senyum itu. Senyum itu milik Randi.

“Wah… rupanya Randi sudah besar,” gumam Momo.

“Siapa dia?” tanya Riyu-Riyu.

“Dia dulu kawan bermainku ketika ia masih kecil. Ternyata, karena inilah dia tak memakaiku lagi,” kata Momo.

Kini, Momo tak menyesal lagi kenapa harus bersama Pak Tua. Ia lalu berjanji akan selalu tersenyum menyambut anak-anak yang naik kereta odong-odong Pak Tua. Selesai.

*Lokasi cerita benar-benar ada. Dari Permata water Park sampai lokasi wisata kerajinan kulitnya. Dikirim 17 Oktober 2014 dan dimuat tanggal 28 Mei 2015.

RDI : Lucunya anak-anak

Sedih sekali majalah RDI sudah tidak terbit lagi. Ini dua tulisanku yang pernah tayang di majalah RDI

Foto RDI 1

BELI RUMAH*dimuat bulan Mei

“Aku ingin kamar sendiri yang dindingnya warna-warni,” pinta anak saya ketika TK.

”Nanti ya kalau Ayah sudah beli rumah untuk kita,” kata saya.

Suatu hari ada rumah yang dijual dekat rumah kontrakan kami. Kebetulan saya dan suami membicarakan rumah itu. Anak saya girang bukan main.

“Asyiiik…beli rumah,” katanya salah paham.

Esoknya ia telat pulang sekolah. Setelah ditanya ternyata ia diantar teman-temannya mencatat nomor telepon rumah yang dijual itu.

“Sebentar lagi Ayah gajian dan akan beli rumah itu kan, Bu? Aku sudah cerita teman-teman loh.”

Alamaaak… dan berita itu menyebar cepat ke tetangga. Malu.

 

Foto RDI 2

KEMANA ALISMU?*dimuat bulan Juni

Suatu ketika saya sedang memasak. Anak saya saat berusia tiga tahunan asyik bermain di ruang keluarga. Ia bermain sambil berceloteh dan bernyanyi.

“Main apa sayang?” teriak saya dari dapur.

“Boneka,” jawabnya.

Namun lama-lama saya tak mendengar celotehan atau nyanyiannya lagi. Dari jauh saya lihat ia sibuk dengan sesuatu. Saya mendekati dan memanggilnya. Ia pun menoleh.

“Loh… kemana alismu yang satu, Nak?” tanya saya kaget.

“Kucukur pake ini, seperti Ayah,” jawabnya sambil mengacungkan alat cukur kumis.

Bobo : Taktik Jitu Kurcaci Tiki

Foto Tak Tik Jitu Kurcaci Tiki

Alhamdulillah dimuat Bobo. Tulisan ini kubuat dengan membuat judul terlebih dulu, yakni TAK TIK JITU KURCACI TIKI. Setelah itu aku baru memikirkan alur cerita dan tokohnya.

Cerita ini kukirim via email tanggal 28 Mei 2014 dan dimuat tanggal 5 Februari 2015. Waktu tunggunya sekitar 8 bulan lebih. Ini dia ceritaku :

“Huh… selalu seperti ini,” dengus kurcaci Tiki memeriksa tiap halaman buku yang ia pegang. Ada banyak coretan hampir ditiap halamannya. Dengan muka kesal lalu Tiki menyemprotkan ramuan ajaib ke coretan-coretan itu. Sebentar kemudian coretan-coretan itu menghilang, dan buku menjadi bersih kembali.

“Jangan mengeluh. Sudah menjadi tugas kita sebagai kurcaci Penjaga Perpustakaan untuk merawat buku-buku ini,” ucap Perp, kurcaci berkaca mata merapikan buku-buku di rak.

Mendengar kata-kata Perp, kurcaci Tiki hanya bisa diam dengan muka masam. Dalam hati ia bertanya, kenapa manusia-manusia itu tak bisa merawat buku dengan baik? Selalu saja buku-buku yang mereka pinjam, kembali tidak dalam keadaan seperti semula. Kadang ada coretan, lipatan-lipatan, lecek, bahkan ada yang sobek.

Lalu Tiki meletakkan buku yang sudah ia bersihkan ke rak hijau. “Hei… buku dongeng letaknya di rak merah,” ucap Perp mengingatkan. Tiki tertawa kecil. Ia memang kurcaci yang pelupa. Tiki pun segera meletakkan bukunya tadi ke rak merah. Kemudian ia kembali ke tempat duduknya. Tapi ia mendadak kebingungan. Kedua alisnya bertaut. Ia menoleh kesana-kemari, mencari sesuatu. “Ada yang melihat botol ramuan ajaibku?” tanyanya.

“Ada di sakumu,” jawab kurcaci-kurcaci penjaga perputakaan serempak. Ya… Tiki selalu saja lupa.

“Ya ampuuun… lihatlah teman-teman. Buku ini jorok sekali. Ada banyak minyak di sana-sini,” teriak Noe kurcaci yang paling gendut.

Tiki dan Perp menoleh kearah Noe bersamaan. Lalu mereka menghampiri Noe dan melihat buku yang ia pegang.

“Bekas minyak dibuku ini sudah kucoba hilangkan dengan ramuan ajaib, tapi tidak bisa,” ucap Noe.

“Ini sudah tak bisa dibiarkan. Kita harus melakukan sesuatu. Karena kalau tidak, buku-buku ini bisa rusak semuanya,” seru kurcaci Tiki.

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Perp sambil membetulkan kacamatanya. Tiki tak menjawab. Ia sedang memikirkan sesuatu. Sedangkan kurcaci-kurcaci lainnya menatap Tiki dengan wajah keheranan.

Keesokan paginya Tiki mengambil semua botol-botol ramuan ajaib dan memasukkannya ke dalam kantong. Kemudian ia mengendap-endap menuju pintu perpustakaan. Ia pergi tanpa sepengetahuan teman-temannya.

Hari menjelang siang. Seperti biasa perpustakaan selalu ramai dikunjungi para siswa saat istirahat. Kurcaci-kurcaci penjaga perpustakaan mengamati para siswa dari balik buku-buku.

“Hei… jangan menumpuk buku dalam jumlah banyak. Nanti buku-buku itu bisa rusak, lembarannya bisa saling menempel, dan jilidnya bisa gampang lepas,” teriak Tiki marah pada seorang siswa diantara buku-buku pelajaran.

“Hei… kamu, jangan membaca buku sambil makan snack. Minyaknya bisa menempel di buku,” teriaknya lagi pada siswa berbadan gemuk. Tapi percuma, siswa itu tak mendengar suaranya.

Jam sekolah berakhir. Kini tugas para kurcaci dimulai kembali seperti biasanya. Mereka harus merapikan buku-buku yang baru dipinjam para siswa. Dari merapikan buku yang ada lipatannya, membersihkan buku yang ada coretan-coretannya dan lain-lain.

“Ramuan ajaib kita hilang,” teriak Noe heboh. Kurcaci-kurcaci lainnya pun kaget.

“Bagaimana ini? Kita takkan bisa melakukan tugas dengan baik tanpa ramuan ajaib itu,” kata Perp. Tiki pura-pura tidak tahu.

Seminggu berlalu dan botol-botol ramuan ajaib itu belum ditemukan. Hari ini Pak Dendi petugas perpustakaan banyak mendapat keluhan dari siswa. Mereka mengeluhkan buku-buku yang rusak dan tidak rapi seperti biasanya. “Bukunya kenapa lecek begini, Pak? Banyak lipatan lagi,” tanya anak perempuan berkacamata.

“Pak… Kok bukunya jorok begini?” tanya anak laki-laki bertubuh gemuk. Dan banyak keluhan-keluhan lainnya.

Pak Dendi pun melihat buku daftar peminjaman buku. Dengan begitu Pak Dendi bisa tahu siapa-siapa yang terakhir meminjam buku dan mengembalikannya dalam keaadaan rusak. Maka siswa itulah yang harus bertanggung-jawab.

Setelah kejadian itu akhirnya banyak siswa menyadari akan pentingnya memperlakukan buku dengan baik. Sebab buku adalah sumber ilmu, harus dijaga dan dirawat.

Kini mereka tak lagi melipat lembaran buku yang mereka baca, tapi mereka menggunakan pembatas buku. Mereka tak mencoret-coret buku lagi. Mereka tak mengotori atau merusak buku lagi. Pak Dendi senang, demikian juga dengan Tiki dan kurcaci-kurcaci lainnya.

“Taktikku berhasil. Tak sia-sia aku menyembunyikan botol-botol ramuan ajaib itu. Ya biar manusia-manusia itu tahu akan kesalahannya,” ucap Tiki senang.

“Apa?” tanya Perp.

“Oh… tidak apa-apa,” sahut Tiki cepat. Kemudian ia memikirkan sesuatu.

“Meski manusia-manusia itu sudah menyayangi buku, kita harus tetap ikut merawat buku-buku di perpustakaan ini,” ujar Perp.

“Lalu apa kita masih memerlukan botol-botol ramuan ajaib yang telah hilang itu?” tanya Noe.

“Hmmm… bagaimana menurutmu, Tiki?” tanya Perp.

Mendengar pertanyaan Perp, kurcaci Tiki gelagapan. Ia bingung harus menjawab apa. Sebab ia lupa dimana menyimpan botol-botol ramuan ajaib itu. Dan hingga saat inipun belum ditemukan. Apakah kalian tahu dimana botol-botol itu berada? SELESAI.

Gado-gado Femina : Peri Daster

Image313 (2)

“Please…, jangan pakai daster ya…,” kata suami saya diawal pernikahan. Hah? Memangnya kenapa?

Umumnya, wanita akan berusaha tampil cantik dan menarik dalam hal berbusana. Tapi, kebanyakan wanita yang telah menikah dan punya anak akan mengganti busana cantik andalannya dengan… daster. Memang, tidak semua wanita berganti haluan. Tapi mungkin hal itulah yang membuat suami saya memberi peringatan diawal pernikahan.

“Dek… nanti kalau sudah punya anak jangan mobrot-mobrot ya!” katanya lagi.

“Mobrot-mobrot, gimana?” jawab saya nggak ngerti.

“Maksudnya mobrot-mobrot itu tak memperhatikan penampilan lagi karena mentang-mentang sudah laku. Contohnya, kemana-mana pakai daster, bolong-bolong lagi,” jelasnya sambil tertawa.

“Lah, kalau nggak bolong, ya, tidak bisa dipakai dong,” canda saya.

“Intinya, jangan berpenampilan acak-acakan, apalagi kalau suami ada di rumah. Masa pakai daster terus. Tapi, giliran kondangan pakai baju bling-bling dan bagus,” suami terus nyerocos. Rupanya, ia serius dengan peringantannya.

“Ya iyalah… masa kondangan pakai daster,” kata saya tertawa, menggodanya.

“Pokoknya jangan pakai daster ya, please….”

Sampai usia pernikahan 1,5 tahun saya tak punya daster. Sampai akhirnya hamil besar, baru saya membelinya. Tapi, daster-daster itu tak pernah lagi saya pakai setelah melahirkan. Hingga 4 tahun kemudian, saya harus membeli daster kembali karena hamil yang kedua. Dan, seperti sebelumnya, saya tinggalkan daster setelah melahirkan.

Sampai suatu hari saya tertarik dengan obrolan ibu-ibu di facebook. Mereka menyebut diri mereka sebagai Peri Daster. Peri Daster? Wow sebutan yang keren. Kadang-kadang, ibu-ibu ini menceritakan daster kesayangan mereka masing-masing. Seru dan lucu sekali membaca komentar-komentar mereka. Mereka tak sungkan membicarakan daster yang sudah bolong. Hebohnya, acara kopdar pun tak luput dari acara jual beli daster. Karena hal ini, akhirnya saya jadi ingin pake daster lagi, meski tidak hamil. Lalu saya sampaikan niat ini pada suami.

“Mas… saya boleh pakai daster?” tanya saya.

“Daster? Tumben jadi pingin pakai daster,” kata suami, dahinya berkerut.

“Iya, boleh kan? Ada sebutan keren, lho, bagi pemakai daster. Mau tahu nggak?” pancing saya.

“Apaan?” suami ingin tahu.

“Peri Daster,” seru saya.

Mendengar itu, suami tertawa. Wah, kayaknya boleh, nih. Tapi, ow…ow… ternyata suami masih belum mengijinkan.

Hingga suatu hari saya berbelanja di pedagang sayur keliling. Karena takut keburu pergi, terpaksa saya keluar rumah hanya dengan menyambar kerudung dan jaket sekenanya. Dan waktu itu, pakaian yang saya kenakan itu aneh dan amburadul. Memakai celana panjang, kaos oblong, jaket, dan kerudung yang semua warnanya kontras. Suami saya geleng-geleng kepala. Jujur, sebenarnya saya juga nggak pede. Tapi, karena darurat, ya sudahlah. Sepulang berbelanja, suami menegur saya.

“Mbok pakai baju yang pantas, Dek, kalau ke luar rumah. Nanti dikira nggak pernah dibelikan pakaian sama suaminya,” tegurnya halus.

Saya tersenyum. Memang betul apa yang dikatakannya. Lagipula, pakaian yang kita kenakan juga cerminan dari diri kita, kan?

“Makanya mas, izinkan saya jadi Peri Daster, ya? Sekarang kan modelnya bagus-bagus dan cantik-cantik. Daster berlengan panjang juga ada. Boleh ya? Kalaupun mendadak harus keluar, hanya tinggal memakai kerudung, nggak ribet pakai jaket lagi. Jadi nggak berbaju aneh seperti tadi,” kata saya, berusaha meyakinkannya.

Akhirnya, permintaan saya disetujui. Saya pun menjelma menjadi Peri Daster, kecuali jika ‘peri prianya’ ada di rumah. Hahaha….

Tulisan ini dimuat di Gado-gado Femina. Kirim tanggal 25 Juni 2012, konfirmasi diterima tgl 3 Juli 2012, konfirmasi dimuat tgl 4 September 2012, dimuat tgl 20 – 26 Oktober 2012