Senyum Kemiri

Untitled

Aku sudah bosan dengan rambut pendek sebahu. Aku ingin sekali punya rambut panjang seperti Tiara. Yang jika digerai akan tampak indah dan bagus sekali. Selain itu bisa dikepang, atau dikuncir dengan karet warna-warni. Tapi, Mama tak pernah mengijinkan.
“Amanda… ini Mama bawa bandana baru. Ada mutiaranya, cantik sekali,” ucap Mama mengulurkan tas plastik kecil berlogo toko aksesoris langganannya.
“Mama lama sekali pulangnya?” tanyaku.
Mama tersenyum. Lalu Mama melepas sepatu dan meletakkannya di rak. Kemudian Mama menghampiriku.
“Sepulang kerja tadi, Mama mampir dulu ke toko aksesoris. Beli bandana ini, buat kamu sayang. Ini model terbaru lho,” jelas Mama.
“Bandana Amanda kan sudah banyak, Ma?” kataku.
“Nggak apa-apa. Biar Amanda bisa ganti-ganti bandananya. Biar nggak bosan,” kata Mama lalu meninggalkanku ke kamar.
Kupandangi bandana baru dari Mama. Lalu kucoba di kepalaku dan bercermin. Tidak ada yang spesial. Bagiku, bandana ini sama saja dengan bandana-bandana lain yang sudah kupunya.
“Senyum dong, biar cantik,” kata Mama seusai ganti baju.
“Ma… bolehkan kalau rambutku panjang seperti Tiara?” tanyaku hati-hati.
Mama langsung menggeleng cepat, seperti biasa.
“Punya rambut panjang itu repot, nanti menyisirnya jadi lebih lama,” kata Mama.
Aku pun cemberut.
**
“Rambut Tiara bagus sekali, Tante. Tebal dan hitam berkilau. Sering dirawat ke salon, ya?” tanyaku suatu hari ketika main ke rumah Tiara.
Tante Mira yang sedang mengepang rambut Tiara, menggeleng tersenyum. Sedangkan Tiara cekikikan mendengar pertanyaanku. Ah, masa sih nggak pernah? Tanyaku dalam hati.
“Aku ingin punya rambut panjang seperti Tiara, Tante. Tapi, Mama selalu melarangku,” kataku kemudian.
“Kenapa?” tanya Tante Mira.
“Kata Mama, punya rambut panjang itu repot dan mahal karena harus dirawat di salon. Mamaku pelit ya, Tante,” jawabku sedih.
“Bukan pelit. Mungkin Mama punya maksud lain. Biar Amanda lebih mudah menyisir rambut sendiri, misalnya,” jelas Ibu Tiara.
**
“Kok anak Mama sekarang nggak pernah lagi tersenyum kalau sedang bercermin? Kenapa?” tanya Mama.
Aku hanya geleng-geleng kepala. Kemudian Mama memanggilku agar duduk di sebelahnya. Tangan Mama membawa cawan kecil.
“Tadi pagi Mama mendapat resep ajaib. Lalu Mama tertarik untuk membuatnya,” Mama bercerita.
“Resep ajaib? Dari siapa?” tanyaku mulai tertarik.
Mama mengangguk. Lalu menyuruhku duduk membelakangi Mama. Kemudian Mama mengoleskan minyak di kulit kepalaku sambil memijat-mijat.
“Resep ajaib ini dari Tante Mira. Amanda ingin punya rambut tebal dan hitam seperti Tiara, ya? ” ujar Mama masih mengolesi rambutku.
“Iya,” jawabku.
“Kalau begitu tiap hari libur Mama akan mengolesi rambut Amanda dengan minyak kemiri ini,” kata Mama tersenyum.
“Kemiri? Bumbu dapur yang bentuknya hampir bulat itu?” tanyaku.
“Iya. Kemirinya ditumbuk dan disangrai, agar minyaknya keluar,” jelas Mama.
Hatiku riang gembira. Aku berharap ini tanda bahwa Mama akan membolehkanku mempunyai rambut panjang seperti Tiara.
“Mama sedih loh, Amanda sekarang nggak mau pakai bandana yang dibelikan Mama,” ucap Mama kemudian.
Aku kaget mendengarnya. Lalu aku menghadap Mama, sehingga Mama terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ada perasaan bersalah ketika aku melihat Mama bersedih.
“Maaf, Ma. Tapi aku sudah bosan pakai bandana di rambutku yang pendek ini,” kataku akhirnya.
Mama menghela napas panjang.
“Amanda boleh punya rambut panjang, tapi tidak sekarang. Tahun depan saja, ya? Saat itu pasti Amanda sudah semakin besar dan semakin pandai merawat dan menyisir rambut sendiri,” kata Mama.
Aku mengangguk senang. Kupeluk Mama dan mengucapkan terimakasih padanya. Senyumku pun mengembang. Senyum rasa kemiri. Selesai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: