Keranjang Minuman Hias Flanel

Assalamualaikum… bentar lagi puasa, trus lebaran. Saya lagi pingin buat keranjang di bawah ini. Tapi kalau nulis bukunya sudah selesai. Semoga ada kesempatan. Keranjang strawberry ini buatan adik saya.

1800209_1838999786238792_1005673867_n

1463314_1814423542029750_1255038664_n

Yang di bawah ini lucu. Bukan buah-buahan yang ditaruh di keranjang, tapi aneka hewan lucu ^_^

1000953_1848017568670347_1649560659_n

Yang di bawah ini keranjang untuk toples tupperware. Bagus, yach.

1425547_1814423935363044_1299815623_n

Maaf yach kalau fotonya besar kecilnya nggak sama. Belum ngerti cara setting ukuran fotonya 😦 . Dulu kalau di blog sebelumnya, sudah otomatis disediakan milih ukuran foto. Di sini nggak tahu saya, lagi malas browsing juga. Capek habis revisi naskah buku. *hihi… sok sibuk 😀

Pingin suasana baru di meja tamu saat lebaran? Yuk, bikin. Tutorial bikin strawberry, bunga dan hewan-hewan bisa searching di google, ya.

Semoga menginspirasi.

 

Bros Muslimah dari Flanel

Ingin membuat bros flanel seperti ini? Mudah sekali buatnya, lucu bentuknya, bangga pakainya 🙂

brosm

Siapkan pola seperti gambar dibawah ini:

brosm1

Cara membuatnya :

1. Satukan bagian kepala dengan tusuk feston. Sisakan sedikit untuk memasukkan dakron atau kapas, lalu jahit lagi dengan tusuk feston hingga tertutup sempurna.

2. Lem bagian dagu dan rekatkan pola flanel hijau yg berlubang. Lemnya jangan sampai kemana-mana ya, biar ga jorok.

3. Setelah itu kepala bagian belakang dilem dan rekatkan pada pola flanel hijau yg tidak berlubang. Usahakan lurus dengan flanel hijau bagian depan ya. Ngelemnya nggak usah banyak-banyak, cuma biar nggak berubah posisi saja saat dijahit.

4. Jahit sekelilingnya dengan tusuk feston, sisakan sedikit, masukkan dakron/kapas, jahit kembali hingga menutup sempurna.

5. Beri aksesori bunga atau pita untuk mempermanis bros ini. Selamat mencoba 🙂

Bunga Botol Pita Jepang

Punya botol bekas minuman air mineral? Bisa dibuat bunga cantik nih. Bahan lainnya adalah 1 rol pita kado/pita jepang dan selotip.

Pita jepang bisa dikreasikan menjadi macam-macam bunga. Dari yang susah maupun yang paling mudah.

Nah, kali ini yang saya posting adalah membuat bunga pita jepang yang paling mudah. Bagus dan cantik hasilnya.

Ini dia :

1.png

Bahan-bahannya :

  • 1 botol bekas air mineral.
  • 1 roll pita jepang.
  • selotip/lem

Cara membuatnya :

  • Potong botol menjadi dua. Yang kita gunakan adalah yang bagian bawah.
  • Gunting botol kecil-kecil memanjang ke bawah, tapi jangan sampai dasar botol. Nanti akan dipakai untuk menyematkan bunga (sebagai tangkai)
  • Potong-potong pita kurang lebih 6 cm.
  • Gunting kedua ujungnya menjadi menjadi 8 bagian kecil-kecil (lihat gambar di bawah). Lalu lengkungkan dengan gunting (biar lentik hahaha).

bot4.jpg

  • Buat contong dengan menyilangkan pita (spt gambar di bawah). Dengan cara yang lentik/melengkung ke arah luar. Lalu lem biar gak lepas. Dulu aku gak pake lem, tp solasi/selotip.

bot5

 

  • Gunting dikit ujung contong pita agar mudah saat memasukkan guntingan botol (saat merangkai)
  • Rangkaikan seluruh pita ke botol aqua. Biar gak lepas2 bisa dikasih selotip. Sumpeeeh jadinya bagus. Bisa ditaruh dimeja, dimobil, digantung juga nice.

 

*Postingan ini pindahan dari postingan di blogspot milik saya. Menurut data statistik, pengunjung untuk postingan ini di sana sudah ribuan. (Blog yg di blogspot mau saya hapus, hiks).

Semoga bermanfaat. Selamat mencoba.

Head Band Flanel (Bando/Bandana)

Waktu masih TK putri saya suka sekali pakai asesoris di kepala. Salah satunya adalah memakai bandana. Saya pun membuat bermacam-macam modelnya. Ini dia, semoga menginspirasi. 🙂

Kalau yang di bawah ini kain flanelnya hanya  dipasang di tengah untuk  pemanis saja. Lainnya dari renda gold.

bando.jpg

Bagaimana Mom? Berniat untuk membuatkan bandana cantik untuk si kecil?

 

Membuat Cabe Merah dari Flanel

Suatu hari pingin buat gantungan kulkas berbentuk cabe merah. Saat mencari tutorialnya di google, bentuk cabe nggak ada yang klik di hati. Akhirnya utak-atik sendiri dan hasilnya lebih mirip cabe merah beneran. Puas jadinya. Hehehe…

Ini dia karyaku :

534122_1222687397744815_4348071048005450130_n

Ingin membuatnya juga? Mudah  kok. 🙂

Ini dia  caranya :

 

  1. Gunting flanel merah dengan pola segi empat lalu bagi dua secara diagonal.
  2. Letakkan gulungan flanel hijau bersama tali tangkai dan lem.
  3. Jahit dibagian ujung bawah ke tangkai.
  4. Rapikan kain  bagian atas dengan  gunting.
  5. Isi dengan dakron, lalu jahit jelujur dan tarik sehingga dakron tertutup.
  6. Beri kelopak seperti pada gambar, caranya beri lubang kecil  dan lem.
  7. Cabe-cabean siap dibuat pajangan di kulkas.

Selamat mencoba. Semoga bermanfaat.

Senyum Kemiri

Untitled

Aku sudah bosan dengan rambut pendek sebahu. Aku ingin sekali punya rambut panjang seperti Tiara. Yang jika digerai akan tampak indah dan bagus sekali. Selain itu bisa dikepang, atau dikuncir dengan karet warna-warni. Tapi, Mama tak pernah mengijinkan.
“Amanda… ini Mama bawa bandana baru. Ada mutiaranya, cantik sekali,” ucap Mama mengulurkan tas plastik kecil berlogo toko aksesoris langganannya.
“Mama lama sekali pulangnya?” tanyaku.
Mama tersenyum. Lalu Mama melepas sepatu dan meletakkannya di rak. Kemudian Mama menghampiriku.
“Sepulang kerja tadi, Mama mampir dulu ke toko aksesoris. Beli bandana ini, buat kamu sayang. Ini model terbaru lho,” jelas Mama.
“Bandana Amanda kan sudah banyak, Ma?” kataku.
“Nggak apa-apa. Biar Amanda bisa ganti-ganti bandananya. Biar nggak bosan,” kata Mama lalu meninggalkanku ke kamar.
Kupandangi bandana baru dari Mama. Lalu kucoba di kepalaku dan bercermin. Tidak ada yang spesial. Bagiku, bandana ini sama saja dengan bandana-bandana lain yang sudah kupunya.
“Senyum dong, biar cantik,” kata Mama seusai ganti baju.
“Ma… bolehkan kalau rambutku panjang seperti Tiara?” tanyaku hati-hati.
Mama langsung menggeleng cepat, seperti biasa.
“Punya rambut panjang itu repot, nanti menyisirnya jadi lebih lama,” kata Mama.
Aku pun cemberut.
**
“Rambut Tiara bagus sekali, Tante. Tebal dan hitam berkilau. Sering dirawat ke salon, ya?” tanyaku suatu hari ketika main ke rumah Tiara.
Tante Mira yang sedang mengepang rambut Tiara, menggeleng tersenyum. Sedangkan Tiara cekikikan mendengar pertanyaanku. Ah, masa sih nggak pernah? Tanyaku dalam hati.
“Aku ingin punya rambut panjang seperti Tiara, Tante. Tapi, Mama selalu melarangku,” kataku kemudian.
“Kenapa?” tanya Tante Mira.
“Kata Mama, punya rambut panjang itu repot dan mahal karena harus dirawat di salon. Mamaku pelit ya, Tante,” jawabku sedih.
“Bukan pelit. Mungkin Mama punya maksud lain. Biar Amanda lebih mudah menyisir rambut sendiri, misalnya,” jelas Ibu Tiara.
**
“Kok anak Mama sekarang nggak pernah lagi tersenyum kalau sedang bercermin? Kenapa?” tanya Mama.
Aku hanya geleng-geleng kepala. Kemudian Mama memanggilku agar duduk di sebelahnya. Tangan Mama membawa cawan kecil.
“Tadi pagi Mama mendapat resep ajaib. Lalu Mama tertarik untuk membuatnya,” Mama bercerita.
“Resep ajaib? Dari siapa?” tanyaku mulai tertarik.
Mama mengangguk. Lalu menyuruhku duduk membelakangi Mama. Kemudian Mama mengoleskan minyak di kulit kepalaku sambil memijat-mijat.
“Resep ajaib ini dari Tante Mira. Amanda ingin punya rambut tebal dan hitam seperti Tiara, ya? ” ujar Mama masih mengolesi rambutku.
“Iya,” jawabku.
“Kalau begitu tiap hari libur Mama akan mengolesi rambut Amanda dengan minyak kemiri ini,” kata Mama tersenyum.
“Kemiri? Bumbu dapur yang bentuknya hampir bulat itu?” tanyaku.
“Iya. Kemirinya ditumbuk dan disangrai, agar minyaknya keluar,” jelas Mama.
Hatiku riang gembira. Aku berharap ini tanda bahwa Mama akan membolehkanku mempunyai rambut panjang seperti Tiara.
“Mama sedih loh, Amanda sekarang nggak mau pakai bandana yang dibelikan Mama,” ucap Mama kemudian.
Aku kaget mendengarnya. Lalu aku menghadap Mama, sehingga Mama terpaksa menghentikan aktivitasnya. Ada perasaan bersalah ketika aku melihat Mama bersedih.
“Maaf, Ma. Tapi aku sudah bosan pakai bandana di rambutku yang pendek ini,” kataku akhirnya.
Mama menghela napas panjang.
“Amanda boleh punya rambut panjang, tapi tidak sekarang. Tahun depan saja, ya? Saat itu pasti Amanda sudah semakin besar dan semakin pandai merawat dan menyisir rambut sendiri,” kata Mama.
Aku mengangguk senang. Kupeluk Mama dan mengucapkan terimakasih padanya. Senyumku pun mengembang. Senyum rasa kemiri. Selesai.

Bobo : Bibi Es Krim

Bibi eskrim

Aku dan Nina senang sekali. Kami baru saja memasukkan dua lembar uang lima ribuan ke celengan. Tante Cantik memang baik. Selalu memberi uang ketika berkunjung ke rumah.
“Wah, anak-anak Ibu rupanya lagi senang, ya?” tanya Ibu.
“Kalau Tante Cantik datang, celengan kami jadi gendut, Bu,” kataku girang. Nina pun tertawa lebar sambil mengocok celengannya.
**
Sudah lama rasanya tak bertemu dengan Tante Cantik. Kata Ibu, Tante Cantik sakit, jadi tak bisa sering-sering lagi datang ke rumah kami.
“Ayu… tolong bantu Ibu membersihkan kamar tamu, ya? Nanti sore ada tamu spesial yang datang,” jawab Ibu.
“Asyiiik… Tante Cantik mau datang lagi,” seruku pada Nina. Nina ikut-ikutan girang. Ibu hanya tersenyum.
“Yang bersih dan rapi, ya,” pesan Ibu meninggalkan kami menuju dapur.
Pasti Ibu mau membuat roti bolu pandan kesukaan Tante Cantik. Setelah kamar tamu sudah siap dibersihkan, aku dan Nina ke dapur. Ingin membantu Ibu membuat roti bolu pandan.
“Ayu… tolong petikkan tiga helai daun jeruk, ya,” kata Ibu.
“Siap Bu. Dengan senang hati,” seruku.
Dengan semangat aku menuju kebun kecil kami yang ada di halaman rumah. Ah, rasanya sudah tak sabar menunggu kedatangan Tante Cantik. Tapi, buat apa daun jeruk ya? Memangnya ada kue bolu rasa daun jeruk?
“Daun jeruknya untuk apa sih, Bu?” tanyaku sambil mengulurkan daun-daunan yang biasanya untuk memasak itu.
“Untuk masak rawon, buat menyambut tamu kita,” jawab Ibu.
Wah… ternyata Ibu mau membuat masakan berkuah hitam kesukaanku dan Nina.
“Rawon? Tante Cantik kan tak suka rawon?” tanya Nina.
Nina benar. Oh… tidak, jangan-jangan bukan Tante Cantik yang akan datang. Tapi…
**
Tamu kami sudah datang dari kemarin. Orangnya cerewet sekali. Kami nggak boleh nonton TV lama-lama, apalagi main game. Tidur nggak boleh malam-malam, dan saat pagi tak boleh malas-malasan meski tidak sekolah.
Saat sang tamu berbincang dengan Ibu di ruang depan, aku dan Nina segera berlari ke dapur. Aku mengambil cobek dan ulekan.
“Untuk apa, Kak?” tanya Nina.
“Aku pernah dengar dari temanku, katanya cara ini ampuh untuk mengusir tamu. Percaya nggak percaya sih. Tapi ah biarlah, siapa tahu manjur,” jawabku.
Dengan semangat aku mengulek cobek kosong. Kemudian aku meminta Nina untuk mengintip ke ruang tamu. Nina menggelengkan kepala. Itu artinya tak ada tanda-tanda bahwa Bibi Cerewet akan pamit pulang. Aku pun ikut mengintip. Dan benar saja, ternyata Ibu dan Bibi Cerewet masih saja asyik berbincang-bincang.
Lalu aku kembali mengulek cobek kosong lagi. Semakin ingat omelan Bibi Cerewet, semakin semangat pula aku mengulek.
“Sedang apa, Ayu? Berisik sekali suaranya.”
“Lagi ngulek cobek kosong, Bu. Biar Bibi Cerewet segera pulang,” kataku.
“Sst.. sst…,” Nina menarik-narik rokku, sepertinya ingin menyuruhku diam. Tapi aku tak peduli.
“Ayu nggak mau diomelin Bibi Cerewet lagi, Bu. Enakan Tante Cantik yang datang,” kataku nyerocos masih ngulek cobek kosong.
Terdengar tawa berderai di belakangku. Aku menoleh cepat. Ternyata ada Bibi Cerewet bersama Ibu. Duh, malunya aku.
“Itu tidak benar, Yu. Kata siapa ngulek cobek bisa ngusir Bibi?” Ibu tertawa. Bibi tersenyum mendekati kami.
“Bibi itu sayang kalian. Kenapa sih Bibi meminta kalian agar tidak malas bergerak? Sebab bisa bahaya lho, tulang kalian bisa keropos seperti Tante Cantik,” kata Bibi Cerewet.
“Tulang Tante Cantik keropos?” tanyaku.
“Iya, namanya osteoporosis,” jawab Bibi Cerewet.
**
Hari ini Bibi mengajakku dan Nina jalan-jalan pagi. Kata Bibi, jalan kaki membuat sehat.
“Ayo ayunkan tangan kalian,” seru Bibi Cerewet.
Kami menirukan gaya Bibi, agar tak dicereweti lagi. Kami terus berjalan sampai akhirnya berhenti di lapangan. Ada banyak orang dan anak-anak di sana.
Lalu Bibi mengajak kami senam seperti yang lainnya. Awalnya aku enggan, tapi ternyata asyik juga menggerak-gerakan kepala dan badan. Seperti menoleh ke kanan dan ke kiri, mengayunkan tangan, dan melompat.
“Senam membuat badan kita sehat,” kata Bibi semangat.
Aku dan Nina ikut semangat. Sampai tak terasa lagu yang mengiringi senam habis. Badanku berkeringat dan lelah sekali.
Tak lama kemudian Bibi datang. Bibi membawa eskrim dan menyodorkannya kepadaku.
“Ayo dimakan eskrimnya, nanti keburu meleleh. Biar Bibi kalian yang cerewet ini senang,” kata Bibi tersenyum.
Mukaku memerah, malu sekali. Sejak saat itu aku dan Nina tak lagi memanggil Bibi kami dengan sebutan Bibi Cerewet. Kami memanggilnya dengan sebutan Bibi Eskrim. Karena tiap liburan, Bibi datang mengajak kami jalan dan senam lalu membeli eskrim. Selesai.

Bobo : Tarian Pohon Mengkudu

Foto Tarian Pohon Mengkudu

Ini dongengku yang ketiga di BOBO. Gambarnya rame, seneng lihatnya. Cerita ini terinspirasi dari pohon mengkudu tetangga. Selamat membaca. ^^

Namanya Pohon Mengkudu. Pohon yang dikenal dengan buah buruk rupa ini, suka menari jika ada angin yang menerpanya.

“Hmmm… haruuum…,” ucap Pohon Mengkudu meliuk-liuk mengikuti gerakan angin. Ia terus menerus mengendus aroma bunga mangga yang ada disekitarnya. Pohon Mengkudu memang suka aroma wangi bunga mangga. Pohon-pohon mangga jadi tersenyum geli melihatnya.

“Wah… lihat! Pohon Mengkudu sedang menari,” kata Pohon Mangga Gadung.

“Kamu benar-benar lucu, Pohon Mengkudu,” seru Pohon Mangga Manalagi.

“Iya… ya. Dia selalu membuat kita tertawa,” sahut Pohon Mangga Madu.

Mendengar itu, Pohon Mengkudu terus menggoyang-goyangkan badannya. Ia senang dengan ucapan teman-temannya. Namun tiba-tiba angin besar berhembus dan merontokkan buah-buah Pohon Mengkudu.

Anak-anak kecil yang kebetulan lewat, mengambil buah-buah itu. Lalu mereka saling melempar dan membuangnya. Bahkan ada pula yang menginjak-injak atau membanting buah kuning kehijauan itu. Pohon Mengkudu jadi sedih sekali.

**

“Wah… asyiiik…, sebentar lagi buah-buahku akan di panen,” kata Pohon Mangga Gadung.

“Iya. Bahkan buahku yang masih muda pun juga dipanen, karena sudah manis,” seru Pohon Mangga Manalagi.

“Buahku juga manis, lho,” sahut Pohon Mangga Madu tak mau kalah.

Pohon-pohon mangga itu sedang bergembira. Bunga-bunga mereka sudah berganti menjadi buah yang siap panen.

“Buahku juga siap dipanen, lho,” teriak Pohon Mengkudu memberitahu. Ia tersenyum sambil terus menari-nari karena hembusan angin.

Pohon-pohon mangga tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan sebagian ada yang sampai terbatuk-batuk. Pohon Mengkudu masih tersenyum. Dikiranya, pohon mangga-mangga itu sedang tertawa melihat tariannya.

“Tapi, yang suka buah kamu itu cuma Kakek Suto,” kata Pohon Mangga Gadung tertawa.

“Anak-anak kecil di sini tidak suka buah mengkudu. Hihihi…,” Pohon Mangga Manalagi terkekeh. Pohon Mengkudu berhenti menari. Mukanya cemberut.

“Teman-teman… hentikan gurauan kalian. Lihat, Pohon Mengkudu jadi bersedih!” ucap Pohon Mangga Madu.

Pohon Mangga Gadung dan Manalagi langsung menghentikan tawa mereka. Sejak saat itu Pohon Mengkudu selalu bersedih, ia tak mau tersenyum walaupun sedang menari bersama angin. Ia baru tersenyum jika Kakek Suto mengambil buah-buahnya.

**

“Kemana ya, Kakek Suto? Harusnya ia sudah mengambil buah-buahku lagi,” gumam Pohon Mengkudu.

“Hei… Kakek Suto datang. Pasti ia akan mengambil buah-buahmu,” seru Pohon Mangga Madu.

Kakek Suto datang bersama cucu-cucunya. Ia membawa galah dan keranjang kecil. Pohon Mengkudu bergembira. Tapi, Kakek Suto berhenti di bawah pohon mangga madu. Dengan galah tersebut, Kakek Suto mengambil buah-buah mangga yang siap dipetik. Kedua cucu Kakek Suto senang sekali. Mereka akan membuat jus mangga, katanya.

Pohon Mengkudu memperhatikan cucu Kakek Suto. Sari dan Doni namanya, begitu Kakek Suto tadi memanggil mereka.

“Alangkah bahagianya aku jika anak-anak itu juga menyukai buahku,” kata Pohon Mengkudu menunduk sedih.

Pohon Mangga Madu melirik Pohon Mengkudu. Tadinya ia bergembira karena sedang dipanen Kakek Suto, tapi kini tak berani menampakkan rasa bahagianya lagi.

“Pohon Mengkudu… , jangan bersedih dong. Percayalah… pasti suatu hari nanti anak-anak juga akan suka padamu,” hibur Pohon Mangga Madu.

Pohon Mengkudu diam. Ia tahu Pohon Mangga Madu hanya menghiburnya saja. Tapi, Pohon Mengkudu jadi deg-degan setelah Kakek Suto dan kedua cucunya menghampiri dirinya. Mau apa ya? Pikir Pohon Mengkudu.

“Ini pohon kesayangan Kakek. Buah-buahnya selalu membuat Kakek sehat, tidak terkena tekanan darah tinggi. Buah-buah ini juga bisa mengobati sakit demam, batuk dan sakit perut, lho,” ucap Kakek Suto pada Sari dan Doni. Kedua cucu Kakek Suto manggut-manggut.

“Pohon ini juga bisa menghilangkan sisik kaki kalian. Ayo, Kakek tunjukkan caranya,” ucap Kakek.

Lalu Kakek Suto mengambil buah mengkudu yang masak. Kemudian menggosok-gosokkan buah itu ke kaki. Sari dan Doni pun mengikuti apa yang dilakukan Kakek Suto.

“Sedang apa, Kek?” tanya anak-anak yang suka main lempar-lemparan buah mengkudu.

“Membersihkan kaki yang bersisik. Setelah digosokkan, biarkan 5-10 menit. Setelah itu bersihkan dengan kain bersih yang dibasahi air hangat. Ayo, kalian boleh mencobanya,” ucap Kakek Suto.

Seketika anak-anak itu menirukan apa yang dilakukan Kakek Suto, Sari dan Doni. Mereka melakukan dengan tertawa riang. Mereka tak menyangka, buah yang biasanya mereka buang dan injak-injak, ternyata ada manfaatnya. Pohon Mengkudu terharu. Ia pun mulai menari lagi mengikuti gerakan angin dengan tersenyum gembira.

Bobo : Petualangan Momo

Foto Petualangan Momo

Ini dia dongeng keduaku:

Gelap dan sunyi. Sudah lama Momo ingin menikmati udara segar dan bermain bersama Randi. Tapi, hari itu tak kunjung tiba. Momo masih terus mendekam di tempat yang penuh debu, yang bernama gudang.

Tapi suatu ketika, mata Momo membelalak tatkala pintu gudang terbuka. Ada seseorang yang mengangkatnya dan membawanya keluar. Momo kenal sosok itu. Dia adalah ayah Randi. Momo senang bukan main. Pasti Randi sebentar lagi akan naik di badannya, kemudian membawanya berputar-putar keliling komplek seperti dulu.

“Selamat bersenang-senang,” ucap semua penghuni gudang.

Momo tersenyum senang. Tapi, alangkah terkejutnya Momo ketika ia diberikan kepada seorang Pak Tua. Sontak senyum Momo hilang. Ia kecewa karena dirinya harus berpindah tangan. Ada apa ini? Apa Randi dan keluarganya tak lagi sayang padanya?

**

“Hai… namaku Riyu-Riyu,” sapa mobil warna merah jambu ramah.

“Namaku Momo,” jawab Momo sedih.

Momo memandangi dirinya yang kini berada di atas kereta dengan tiga mobil mainan lainnya. Hanya Riyu-Riyu yang tampak ramah, sedang yang lainnya cuek.

“Harusnya aku yang berada di depan, bukan dia,” bisik Mobil Biru.

“Iya. Seharusnya kita yang ada di depan, bukan Riyu-Riyu dan mobil baru itu,” kata Mobil Hitam.

Pak Tua datang. Lalu Pak Tua mendorong kereta odong-odongnya menuju jalanan. Riyu-Riyu dan mobil lainnya bergembira. Sedangkan Momo hanya diam karena tak mengerti.

“Kita akan ke lokasi wisata. Nanti kita akan bertemu anak-anak di sana. Pasti kamu akan suka,” seru Riyu-Riyu.

“Benarkah?” ucap Momo tak percaya.

Momo, Riyu-Riyu dan lainnya terus melaju bersama Pak Tua. Mereka melewati rumah-rumah warga yang hampir semuanya memajang kerajinan kulit. Kemudian mereka melintasi jalan raya Kludan Tanggulangin dan masuk area Perumahan Permata Sidoarjo Regency. Mereka berhenti di kawasan Permata Water Park. Ternyata ada banyak macam permainan anak-anak balita di sana. Ada kereta kelici, ada komidi putar mini, ada kolam bola, ada kolam pemancingan berisi ikan mainan, dan lain-lain.

Di tempat itu ada warung-warung makanan berjejer rapi. Penjual mainan dan aksesoris pun ada. Tempat yang benar-benar menyenangkan, batin Momo. Tapi, di dalam hatinya ia masih merindukan Randi.

“Randi?” ucap Momo. Ia melihat rombongan orang dewasa yang menggendong anak-anak kecil yang baru turun dari bus mini.

Momo terus mencari sosok Randi, tapi tak ada.

“Mereka itu mau berenang di Permata Water Park,” kata Riyu-Riyu memberitahu.

Momo mengangguk, kemudian ia mengedarkan pendangannya ke arah lain.

“Lihat! Ada banyak bus besar di sana,” seru Momo.

“Iya. Para penumpang bus-bus itu dari luar kota, bahkan kadang dari luar Jawa. Biasanya, mereka akan memborong aneka kerajinan kulit. Seperti tas, sepatu, koper, jaket, dan lain-lain. Buatan para pengrajin Sidoarjo bagus-bagus, lho. Murah lagi,” kata Riyu-Riyu.

Momo manggut-manggut.

“Tempat wisata kerajinan kulit Tanggulangin Sidoarjo ini sangat terkenal. Salah satunya toko besar itu,” seru Riyu-Riyu menunjuk sebuah bangunan megah yang tak jauh dari mereka.

“Oh iya, aku pernah dengar. Bunda Randi sering membeli tas di sana,” ucap Momo.

**

Waktu terus berlalu, namun belum ada pengunjung yang menggunakan jasa odong-odong Pak Tua.

“Kasihan Pak Tua,” ucap Riyu-Riyu.

“Semuanya gara-gara dia,” tunjuk Mobil Hitam ke Momo.

“Coba kalau aku yang berada di depan, pasti akan banyak pengunjung yang tertarik,” timpal Mobil Biru.

Merasa disalahkan seperti itu, Momo jadi sedih sekali. Tapi… Hey… tiba-tiba badannya terasa berat. Seorang anak kecil sudah diatasnya. Kini badan Momo dan lainnya bergerak maju mundur diiringi lagu anak-anak. Rupanya Pak Tua sedang menggowes kereta odong-odongnya. Lama-kelamaan kereta odong-odong Pak Tua terisi penuh.

“Oh… tidaaak…,” Momo menjerit.

Riyu-Riyu kaget. Sedangkan Mobil Hitam dan Mobil Biru tertawa terpingkal-pingkal melihat Momo. Badan Momo basah. Anak kecil itu pipis di badan Momo.

“Tak apa, Momo. Nanti akan dilap Pak Tua,” hibur Riyu-Riyu.

Momo mendengus kesal. Ia jadi ingin pulang ke rumah Randi. Tapi mana mungkin? Ia pun menunduk sedih. Tiba-tiba terdengar suara klakson motor. Suara motor itu tak asing bagi Momo. Itu suara motor milik ayah Randi. Momo segera mendongakkan kepalanya. Benar. Ada ayah Randi bersama anak laki-laki. Mereka menemui Pak Tua. Lalu Pak Tua mengajak mereka melihat Momo. Anak laki-laki itu mengelus-elus Momo sambil tersenyum. Momo kenal senyum itu. Senyum itu milik Randi.

“Wah… rupanya Randi sudah besar,” gumam Momo.

“Siapa dia?” tanya Riyu-Riyu.

“Dia dulu kawan bermainku ketika ia masih kecil. Ternyata, karena inilah dia tak memakaiku lagi,” kata Momo.

Kini, Momo tak menyesal lagi kenapa harus bersama Pak Tua. Ia lalu berjanji akan selalu tersenyum menyambut anak-anak yang naik kereta odong-odong Pak Tua. Selesai.

*Lokasi cerita benar-benar ada. Dari Permata water Park sampai lokasi wisata kerajinan kulitnya. Dikirim 17 Oktober 2014 dan dimuat tanggal 28 Mei 2015.